Wartapol, Gorontalo Utara – Pagi itu, Selasa (21/4/2026), suasana di SDN 6 Gentuma berjalan seperti biasa. Aktivitas belajar mengajar berlangsung tenang, sementara angin tipis menyapu halaman sekolah yang sederhana.
Namun, ada kehangatan lain yang tumbuh di ruang guru.
Di sana, duduk seorang pria yang tidak sedang berdiri memberi arahan, tidak pula menjaga jarak dengan formalitas jabatan. Ia memilih duduk sejajar, berbincang santai, dan larut dalam percakapan ringan bersama para guru. Ia adalah Irwan Abudi Usman.
Kunjungan ke wilayah Gorontalo Utara hari itu awalnya hanya untuk bersilaturahmi. Namun langkah yang diarahkan ke SDN 6 Gentuma justru memperlihatkan potret lain dari seorang kepala dinas—yang hadir tanpa sekat.

Sekitar 30 menit berada di ruang guru, suasana terasa cair. Percakapan mengalir tanpa tekanan. Para guru berbagi cerita tentang keseharian di kelas, tantangan mengajar, hingga hal-hal sederhana yang jarang tercatat dalam laporan resmi.
Irwan mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk, tersenyum, dan ikut tertawa. Tidak ada nada menggurui, tidak pula bahasa formal yang menciptakan jarak. Yang hadir hanyalah percakapan antarmanusia.
“Jarang ada kepala dinas yang bisa sedekat ini,” ujar salah seorang guru di sela perbincangan.
Momen paling mencair terjadi di penghujung pertemuan. Salah satu guru, dengan spontan, mengajak Irwan membuat video TikTok bersama. Ajakan yang mungkin terdengar tidak biasa dalam suasana birokrasi itu justru disambut hangat.
Irwan berdiri, mendekat, dan bergabung.
Dalam hitungan detik, ruang guru berubah menjadi ruang tawa. Gerakan sederhana, ekspresi lepas, dan kebersamaan yang mengalir tanpa beban menjadikan momen itu lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi simbol kedekatan yang jarang terlihat antara pimpinan dan tenaga pendidik.
Wajah-wajah yang sebelumnya serius berubah cerah. Tawa pecah tanpa sekat. Di sana, jabatan seolah kehilangan batasnya.
Hari itu, kunjungan Irwan tidak berhenti di satu sekolah. Ia melanjutkan agenda ke beberapa sekolah lain di wilayah Gentuma. Kehadirannya pun sudah dinantikan para guru.
Bukan semata karena posisi, tetapi karena pendekatan yang ia bangun—ramah, terbuka, dan mudah didekati.
Pendekatan tersebut memberi kesan mendalam. Para guru merasa dihargai, didengar, dan dilibatkan. Dalam dunia pendidikan yang kerap dipenuhi target dan administrasi, hal sederhana seperti duduk bersama dan berbincang santai menjadi sesuatu yang bermakna.
Apa yang terjadi di ruang guru SDN 6 Gentuma mungkin tidak akan tercatat dalam laporan resmi. Namun momen itu hidup—dalam ingatan, dalam cerita, dan dalam rasa kebersamaan.
Di tengah berbagai tantangan pendidikan, kehadiran yang tulus seperti itu menjadi pengingat bahwa membangun pendidikan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar.
Kadang, cukup dengan duduk di tengah, mendengar, dan tertawa bersama.














