Kota Gorontalo

Tangkal Bahaya IRET, Densus 88 Gorontalo Gelar Sosialisasi di SMK 2 Kota Gorontalo

×

Tangkal Bahaya IRET, Densus 88 Gorontalo Gelar Sosialisasi di SMK 2 Kota Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

Warta Politik, Kota Gorontalo -Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Gorontalo dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88 AT) Polri menggelar sosialisasi terkait bahaya Intoleransi, Radikalisme, Extremisme dan Terorisme (IRET) kepada Kepala Sekolah, guru, dan pelajar SMK 2 Kota Gorontalo, (10/2/25).

Kegiatan ini dihadiri lebih dari 500 peserta, yang terdiri dari siswa, siswi, dan staf pengajar.

Kepala Sekolah SMK 2 Kota Gorontalo, Drs. Yakob Ague, menyambut baik kedatangan Tim Cegah yang terdiri dari beberapa personel, yakni IPDA Sandi Jaya Kolopita, SH, BRIPKA Ahmad Nur, SE, Brigpol Rian Rinaldi S. Dama, SKom., MH, dan Bribda Moh. Gifam Sanjaya.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman lebih dalam kepada para pelajar dan tenaga pendidik tentang bahayanya pengaruh intoleransi, radikalisme, serta terorisme, yang dapat menyasar siapa saja, termasuk di kalangan pelajar.

Dalam sesi sosialisasi, Brigpol Rian Rinaldi S. Dama, SKom., MH memaparkan materi tentang paham intoleransi dan radikalisme yang sering kali menyebar di masyarakat, serta dampaknya terhadap kesatuan dan persatuan bangsa.

Baca Juga :  Kasus Jl MT Haryono Cs Stagnan, Kejari Kota Tidur ?

Dalam pemaparan tersebut, ia menjelaskan bahwa intoleransi bisa terlihat melalui sikap tidak menghargai hak orang lain, diskriminasi terhadap suku, agama, ras, dan gender, serta paksaan kehendak.

Radikalisme, lanjutnya, biasanya ditandai dengan penolakan terhadap kebhinekaan dan NKRI, bahkan menolak untuk menghormati bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Baca Juga :  Bahrianto Desak Polresta Gorontalo Kota Serius Tangani Dugaan Pemerasan oleh Oknum Pengacara NF

Selain itu, para peserta juga diberi penjelasan tentang terorisme, yaitu tindakan kekerasan yang digunakan untuk mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara, termasuk bom bunuh diri dan pembantaian.

Terorisme ini berakar dari doktrin yang menganggap pemerintah Indonesia sebagai pemerintah kafir, karena sistem hukum negaranya tidak berlandaskan agama.

Sosialisasi juga menyentuh ciri-ciri pelajar yang sudah terpapar oleh paham radikalisme dan intoleransi. Beberapa tanda-tandanya antara lain enggan menyanyikan lagu Indonesia Raya, tidak menghormati bendera merah putih, serta menganggap kegiatan kebangsaan sebagai sesuatu yang bid’ah atau kekafiran.

Sebagai penutupan, Aldi Awal, seorang mantan Narapidana Teroris (Napiter) yang kini menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, berbagi pengalaman hidupnya setelah terpapar jaringan terorisme.

Baca Juga :  Upaya Pencegahan IRET, Densus 88 Gelar Sosialisasi di Lingkungan PDAM Kota Gorontalo

Aldi menyampaikan pentingnya bijak dalam menggunakan media sosial dan mengajak para pelajar untuk tidak terjebak atau terpapar oleh doktrin terorisme yang sering kali tersebar melalui platform digital.

Dalam kesempatan ini, Tim Cegah juga menekankan pentingnya empat pilar kebangsaan yang harus dipahami oleh setiap generasi muda, yakni UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI, yang menjadi landasan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para pelajar dan guru SMK 2 Kota Gorontalo agar lebih waspada terhadap paham-paham radikal dan intoleran yang dapat mengancam harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *