Warta Politik, Kota Gorontalo – Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Gorontalo dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88 AT) Polri melaksanakan sosialisasi kepada guru dan pelajar SMA 3 Kota Gorontalo dalam upaya pencegahan bahaya ideologi radikal dan ekstremisme (IRET). (12/5/25).
Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah SMA 3 Kota Gorontalo dan dihadiri lebih dari 700 peserta, termasuk kepala sekolah, guru, siswa, serta Ulama Provinsi Gorontalo
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai ancaman paham radikal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam sosialisasi ini, Tim Satgaswil yang terdiri dari IPDA Teguh Pribasi, SE, IPDA Sandi Jaya Kolopita, SH, Bripka Ahmad Nur, SE, Brigpol Rian Rinaldi S. Dama, S.Kom, M.H, serta Bribda Moh. Gifan Sanjaya memberikan pemaparan mendalam mengenai karakteristik intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Brigpol Rian Rinaldi S. Dama, S.Kom, M.H sebagai salah satu narasumber menjelaskan bahwa intoleransi ditandai dengan sikap tidak menghargai perbedaan, diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, dan gender, serta pemaksaan kehendak.
Sementara itu, radikalisme dicirikan oleh sikap anti-NKRI, penolakan terhadap simbol negara seperti bendera dan lagu kebangsaan, serta pemahaman yang menolak keberagaman. Adapun terorisme, lanjutnya, merupakan tindakan ekstrem yang menggunakan kekerasan demi mencapai tujuan tertentu.
Dalam sesi materi, ditayangkan pula beberapa contoh aksi teror yang pernah terjadi di dalam dan luar negeri, guna memberikan pemahaman nyata tentang bahaya ideologi ini. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai ciri-ciri siswa yang telah terpapar paham radikal, seperti enggan menyanyikan lagu Indonesia Raya atau menghormati bendera.
Selain paparan dari Tim , sosialisasi ini turut menghadirkan beberapa narasumber lain, di antaranya Ustad Syarifuddin, S.Pd.I, Ustad Abdul Wahab Kuna, S.Pd.I, serta Aldi Awal, seorang mantan narapidana terorisme (eksnapiter).

Ustad Syarifuddin mengingatkan pentingnya memahami agama secara selektif agar tidak mudah terjebak dalam ajaran yang menyimpang. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk mendukung program pemerintah dalam menjaga keutuhan NKRI.
Sementara itu, Ustad Abdul Wahab Kuna menegaskan bahwa Pancasila adalah dasar negara yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab sebagai penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan.
Aldi Awal menceritakan pengalaman hidupnya saat terjerumus dalam jaringan terorisme. Ia mengimbau para pelajar agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial, mengingat banyak propaganda radikal yang disebarkan melalui platform digital.
“Jangan mudah percaya pada informasi yang mengajak kebencian dan permusuhan. Cermati dan cari sumber yang benar,” pesannya.
Kepala SMA 3 Kota Gorontalo, Dr. H. Syaiful Kadir, M.Pd, mengapresiasi kegiatan ini dan berharap para siswa dapat memahami serta menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Empat pilar kebangsaan, yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harus selalu menjadi pedoman bagi generasi muda dalam membangun bangsa,” tutupnya.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan siswa dan guru lebih waspada terhadap paham radikal serta semakin memperkuat rasa cinta terhadap NKRI.












