Daerah

Pemuda Bersih-Bersih, Pemerintah Ke Mana?

×

Pemuda Bersih-Bersih, Pemerintah Ke Mana?

Sebarkan artikel ini

Warta Politik, Bolmut – Pemandangan semrawut akibat sampah berserakan di perbatasan Sulawesi Utara dan Gorontalo, tepatnya di jalur masuk Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dan Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), mendorong aksi nyata dari generasi muda yang tergabung dalam Organisasi Pecinta Alam.

Aksi pembersihan sampah yang dilaksanakan pada Minggu, 01 Juni 2025, ini dilakukan oleh para pemuda dari Organisasi Remaja Generasi Pecinta Alam Mohobatu.

Mereka menggelar kegiatan bersih-bersih di kawasan perbatasan dua provinsi tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan serta respons atas kondisi wilayah yang nyaris tak terurus.

Wilayah perbatasan yang seharusnya menjadi wajah dan pintu masuk antar daerah ini justru terlihat kotor, dengan tumpukan sampah di pinggir jalan yang mengganggu estetika dan kenyamanan pengguna jalan.

Baca Juga :  Aliansi Paguyuban Se-Gorontalo Utara Gelar Aksi Kemanusiaan untuk Korban Banjir

“Kami prihatin dengan kondisi ini. Perbatasan ini semestinya bersih dan rapi, bukan jadi tempat penumpukan sampah,” ujar Rafli, salah satu peserta aksi.

Mereka menyisir kawasan yang selama ini tidak tersentuh oleh petugas kebersihan, memunguti sampah plastik, botol, serta berbagai limbah rumah tangga lainnya yang dibuang sembarangan, hingga membersihkan gapura perbatasan Sulawesi Utara yang terbengkalai.

Lebih dari sekadar membersihkan lingkungan, kegiatan ini juga menjadi bentuk kampanye edukatif kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan serta mendorong perubahan perilaku.

Para peserta berharap aksi ini dapat menjadi pemantik kesadaran warga sekitar untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan.

Di balik semangat positif ini, para pemuda juga menyuarakan kritik terhadap pemerintah daerah. Mereka menilai bahwa penanganan sampah, khususnya di titik strategis seperti perbatasan provinsi, masih sangat minim.

Baca Juga :  Komisi II DPRD Gorontalo Soroti Kelangkaan LPG 3 Kg, Pertamina Diminta Bertindak Cepat

Tidak tersedianya tempat sampah, kurangnya pengawasan, serta ketiadaan papan larangan membuang sampah menjadi bukti lemahnya perhatian dari pihak berwenang.

“Kami, para pemuda, turun tangan karena tidak ada aksi nyata dari pemerintah. Ini bukan lagi soal teknis, ini soal komitmen dan tanggung jawab,” kata koordinator aksi, Delon Patilima.

Para pemuda yang terlibat dalam aksi ini juga menegaskan bahwa kawasan perbatasan bukan sekadar jalur lalu lintas, melainkan etalase wajah daerah.

Keberadaan sampah yang dibiarkan berserakan tanpa penanganan serius mencoreng citra pemerintah kabupaten maupun provinsi.

Baca Juga :  Dituding Tendensius, Kader HMI Gorut : Roy Ahmad Keliru!

Sebagai koordinator aksi, Delon juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, pelaku usaha lokal, dan organisasi kepemudaan untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Edukasi lingkungan hidup, pengadaan fasilitas kebersihan di area publik, serta pemberlakuan sanksi tegas bagi pembuang sampah sembarangan harus segera diwujudkan.

“Kami mencintai daerah ini. Tapi cinta itu tidak cukup kalau pemerintahnya sendiri diam saja. Jangan biarkan generasi muda terus memungut sampah yang semestinya bisa dicegah dari hulu,” tutup Delon Patilima.

Aksi pembersihan ini memang belum menyelesaikan semua masalah. Namun, ini adalah permulaan—sebuah langkah kecil dengan dampak moral besar yang diharapkan mampu menggugah banyak pihak untuk bertindak. Jika pemuda bisa, mengapa pemerintah tidak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *