Warta Politik, Jakarta — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) melalui Simposium Nasional Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran yang digelar di Gedung KNPI, Rawamangun, Jakarta Timur, menyerukan pentingnya persatuan elite politik dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pembangunan nasional. Seruan ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum DPP GMNI, Sujahri Somar, di hadapan peserta simposium yang terdiri dari akademisi, aktivis mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat sipil.
Sujahri menilai bahwa dinamika politik nasional akhir-akhir ini menunjukkan meningkatnya polarisasi di kalangan elite, yang berpotensi mengganggu fokus pembangunan bangsa. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh menjadi hambatan bagi agenda negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Elite politik harus menyadari bahwa bangsa ini tidak boleh tersandera oleh konflik kepentingan ataupun kompetisi yang tidak produktif. Kami mendorong seluruh elite untuk bersatu, bergandengan tangan, dan menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas tertinggi,” tegas Sujahri dalam sambutannya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan nasional tidak dapat berjalan optimal apabila terjadi tarik-menarik kepentingan di tingkat elite. Karena itu, GMNI memandang perlu adanya konsensus kebangsaan baru yang menempatkan stabilitas politik, pembangunan ekonomi, dan penguatan institusi sebagai agenda kolektif.

“Bangsa ini membutuhkan arah yang tegas dan solid. Perpecahan di antara elite politik hanya akan melemahkan integritas institusi dan memperlambat kemajuan nasional. Semangat kebersamaan harus dikembalikan,” ujarnya.
Sujahri menambahkan bahwa partisipasi mahasiswa dan kelompok pemuda dalam mengawal arah negara sangat penting, namun tetap memerlukan sinergi dengan pemerintah dan elite politik. GMNI, katanya, siap menjadi ruang dialektika kritis yang mendorong penyatuan visi dalam membangun bangsa.

Simposium Nasional ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan evaluatif GMNI terhadap perjalanan satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran. Selain membahas perbaikan kebijakan dan tata kelola lembaga negara, GMNI juga menekankan urgensi kolaborasi politik yang sehat demi mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Bangsa ini hanya bisa maju jika elite politik mampu mengesampingkan ego sektoral. Kita butuh kepemimpinan kolektif, bukan persaingan destruktif,” pungkas Sujahri.











