BeritaOpini

Internet Murah dan Tantangan Peningkatan Literasi Digital

×

Internet Murah dan Tantangan Peningkatan Literasi Digital

Sebarkan artikel ini
Internet Murah dan Tantangan Peningkatan Literasi Digital

Oleh: Fadel Muhammad | Anggota DPD RI

Warta Politik, Opini – Tidak bisa dipungkiri, internet kini sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kebutuhan sehari-hari. Internet makin memberi banyak dampak pada kehidupan manusia. Pada dekade awal penemuannya fungsi internet sangat sederhana, yakni sebagai sarana komunikasi dua arah untuk pengiriman electronic mail (email).

Tetapi sekarang sudah jauh berkembang dan merambah banyak bidang. Internet dan teknologi digital yang secara besama-sama menciptakan dunia maya (cyberspace) telah mengubah masyarakat, bisnis, dan politik seiring dengan respons orang-orang terhadap peluang baru yang diberikan oleh dunia maya yang sekaligus juga mengubah perilaku masyarakat.

Internet mengubah cara bekerja, bersosialisasi, membuat dan berbagi informasi, bahkan bisa mengatur arus orang, ide, dan barang di seluruh dunia. Fungsi ini telah memberi dampak baik pada arus supply and demand produk dan jasa yang bisa meningkatkan sektor ekonomi.

Dampak internet terhadap pertumbuhan ekonomi dirasakan sangat signifikan. Menurut hasil penelitian Interactive Advertising Bureau (IAB) dan Harvard Business School, ekonomi internet telah menyumbangkan US$2,45 triliun(11,57%) dari total US$21,18 triliun PDB Amerika Serikat (AS) pada tahun 2020. Sebelumnya, penelitian McKinsey Global Institute menemukan bahwa dalam kurun waktu lima tahun (2009-2010), internet telah menyumbang 21%pertumbuhan PDB negara-negara ekonomi maju.

Internet juga memiliki unsur keadilan. Siapa pun, di mana pun, kapan pun penggunanya memanfaatkan internet secara bijaksana, ia bisa mendapatkan keuntungan untuk memperbaiki kehidupannya. Tentunya dengan dukungan infrastruktur lainnya yang memadai. Misalnya, di sektor ekonomi, seorang pengusaha UMKM di suatu daerah terpencil memasarkan suatu produk khas daerahnya melalui internet, lalu pembeli datang dari luar pulau melalui pesanan online dengan sistem pembayaran online yang terintegrasi.

Selama jaringan logistik memadai dengan infrastruktur jalan yang baik, produk itu bisa sampai ke pembelinya dalam keadaan yang layak pakai atau layak konsumsi. Dalam hal ini dibutuhkan penetrasi internet yang menyeluruh hingga ke pelosok dengan kualitas jaringan dan kecepatan konektivitas yang memadai, serta didukung infrastrukur ekonomi lainnyauntuk menuntaskan transaksi.

Kabar baiknya, di Indonesia, penetrasi internet terus membaik. Jumlah pengguna internet terus bertambah. Menurut Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), saat ini terdapat 221 juta orang (79,5%) dari populasi penduduk Indonesia yang sudah terkoneksi internet. Penetrasi itu termasuk tinggi di dunia karena, menurut Datareportal, per Januari 2025 jumlah pengguna internet dunia mencapai 5,56 miliar atau 67,9% dari populasi dunia.

Baca Juga :  PDI-P Usul Polri di Bawah Kemendagri, Ini Kata Menko Yusril

Dengan begitu, penetrasi internet di Indonesia lebih tinggi dari penetrasi internet rata-rata dunia.

Pengaruh Kecepatan Internet pada Ekonomi

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa internet seperti apa yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan? Negara-negara maju yang sudah merasakan dampak internet secara signifikan pada pertumbuhan ekonomimereka memiliki jaringan internet broadband dengan kecepatan tinggi.

Berdasarkan Speedtest Global Index, kecepatan internet rata-rata di AS per Januari 2025 adalah 164,85 Mbps (mobile) dan 274,16 Mbps (fixed broadband). Sementara itu, berdasarkan sumber yang sama, kecepatan internet yang bisa dinikmati pengguna Indonesia rata-rata 40,44 Mbps (mobile) dan 32,13 Mbps (fixed broadband).

Kecepatan itu membuat Indonesia berada di urutan bawah di ASEAN di bawah Kamboja (47,06 Mbpsmobile dan 46,89Mbps fixed broadband) dan Laos (46,64 Mbps dan 39,17Mbps). Sedangkan Singapura sudah mencapai kecepatan 161,98 Mbps dan 336,45 Mbps, Malaysia (171,61 Mbps dan129,45 Mbps), Vietnam (134,19 Mbps dan 163,41 Mbps), dan Thailand (101,56 Mbps dan 237,05 Mbps).

Menurut kajian Chiplunkar & Goldberg (2022), peningkatan kecepatan internet berpengaruh nyata pada peningkatan produktivitas. Di negara-negara berkembang di mana akses internet lebih banyak dilakukan melalui smartphone, upgradecakupan jaringan seluler dari 2G ke 3G sebesar 10 poin persen, telah mendorong produktivitas pekerja sebesar 2,1 poin persen.

Dengan terus memperbaiki jaringan internet di Afrika, menurut perkiraan International Finance Corporation (IFC) yang dalam penelitiannya bekerja sama dengan Google, ekonomi internet Afrika akan mencapai US$180 miliar pada tahun 2025 (5,2% dari GDP benua itu) dan akan menjadi US$712 miliar pada tahun 2050 (8,5% dari GDP Afrika).

Internet dan Kesejahteraan Rakyat Daerah

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, Presiden Prabowo Subianto menempatkan peningkatan akses internet berkecepatan tinggi dan digitalisasi sebagai bagian dari arahpembangunannya.

Pada penjelasan poin ketiga Asta Cita disebutkan bahwa dalam rangka melanjutkan pengembanganinfrastruktur, salah satu targetnya adalah membangun infrastruktur digital dan teknologi secara merata di kabupaten/kota di Indonesia sehingga tidak ada desa yang tidak terakses internet atau internet sinyal lemah.

Pembangunan infrastruktur digital yang merata hingga ke pelosok tanah air itu, menurut Kementerian Komdigi, merupakan langkah strategis untuk menghapus kesenjangan digital dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Di sektor ekonomi, digitalisasi menjadi fokus utama untuk mendukung kemandirian bangsa, terutama dengan meningkatkan inovasi teknologi seperti pertanian digital dan platform pembiayaan bagi UMKM.

Baca Juga :  Tambang Ilegal Dilindungi, Penjahat Minta Dilegalkan Dan Bagaimana Nasib Kapolres ?

Hanya saja, kendatipun penetrasi internet Indonesia sudah tinggi, kecepatan internetnya masih rendah. Untuk itu program Kementerian Komdigi untuk membangun jaringan broadband baik fixed maupun mobile dengan harga murah perlu didukung.

Saat ini berdasarkan data kementerian itu, Indonesia sudah memiliki jaringan fiber optik bawah lautsepanjang 118.257,54 km dan fiber optik darat sepanjang 716.935,55 km. Jaringan itu melewati 34 provinsi, 503 kota/kabupaten, 5.564 kecamatan, dan 47.483 desa/kelurahan. Sedangkan coverage operator seluler, dari total luas wilayah pemukiman di Indonesia sebesar 46.031,49 km², sekitar 98,51% sudah dilayani oleh jaringan 2G (kecepatan 56-115 kbps), 5,73% oleh jaringan 3G (2 Mbps), 97,16% oleh jaringan 4G (100 Mbps), dan 2,90% oleh jaringan 5G (>1 Gbps).

Tentu kita senang melihat jangkauan 4G sudah meliputi 97,16% wilayah pemukiman, yang artinya, secara infrastruktur lebih banyak masyarakat yang sudah terjangkau jaringan 4G. Bahkan daerah kategori 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) pun sudah terjangkau 4G.

Ini diharapkan bisa berdampak pada pemberdayaan masyarakat di daerah yang pada akhirnya akan memberi kesejahteraan pada mereka.

Beberapa studi di Indonesia menunjukkan bahwa makin luas jangkauan internet cepat, makin berdampak baik pada perkembangan ekonomi daerah.

Hasil penelitian Lembaga Demografi Universitas Indonesia (UI), menyebutkan, pelaku usaha yang memiliki kecepatan internet di atas 30 Mbps memiliki pendapatan bersih hingga 93% lebih tinggi atau mencapai 15 kali lebih besar dibandingkan responden dengankecepatan internet kurang dari 1,5 Mbps.

Diperhitungkan berdasarkan nilai PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)melalui simulasi data tahun 2021, peningkatan jumlah pengguna internet di kabupaten/kota sebanyak 1.000 pengguna dapat meningkatkan rata-rata PDRB per kapita kabupaten/kota di Indonesia sebesar Rp8,6 miliar.

Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan internet berkecepatan tinggi di Indonesia masih perlu dikaji lebih jauh untuk meningkatkan manfaatnya bagi ekonomi.

Selain itu, banyak yang menilai harga langganan untuk akses internet masih mahal. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2024, pengguna internet Indonesia lebih dari 81,53% mengeluarkan biaya internet per bulan sebesar Rp100.000 atau kurang, di mana sebanyak 36% pengeluarannya kurang dari Rp50.000. Sebanyak 28,38% pengguna menghabiskan 5-10 Gb kuota dan 31,54% menghabiskan 10-20 Gb kuota per bulan.

Baca Juga :  Dikala Harga Diri Institusi Polri Hancur di Kaki Tambang Ilegal

Rata-rata jumlah kuota yang dihabiskan pengguna internet Indonesia (mobile), menurut OpenSignal, adalah 14,4 Gb per bulan pada 2021. Itu lebih tinggi dari sejumlah negara maju. Negara-negara maju yang tergabung dalam OECD(Organisation for Economic Co-operation and Development), rata-rata pengguna di sana menghabiskan kuota internet berkecepatan tinggi dalam sebulan sebesar 13 Gb berdasarkan data tahun 2023.

Tingginya penggunaan kuota internet oleh pengguna Indonesia juga terlihat dari lama pengguna Indonesia mengakses internet. Berdasarkan data Statista, lama pengguna Indonesia berinternet pada tahun 2024 adalah 7,22 jam per hari. Sementara negara-negara maju lebih sedikit. AS hanya 6,4 jam sehari, UK 5,36 jam sehari, Jerman 5,28 jam sehari, dan Prancis 5,23 jam sehari.

Negara Asia seperti Singapura, China, Korea Selatan, dan Jepang, masing-masing 6,33 jam, 5,35 jam, 5,22 jam, dan 4,09 jam per hari. Seharusnya dengan makin lama mengakses internet, dampak ekonominya makin terasa pada perekonomian Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pertengahan tahun lalu mengatakan bahwa ekonomi digital Indonesia (di dalamnya termasuk peran internet) pada tahun 2024 mencapai US$90 miliar (sekitar Rp1.479 triliun) dan tahun 2025 diperkirakan mencapai US$130 miliar (sekitar Rp2.137 triliun). Indonesia berpeluang berperan penting di ASEAN.

Diperkirakan nilai ekonomi digital ASEAN pada tahun 2030 mencapai US$2 triliun. Untuk itu Indonesia mengambil langkah strategis dengan menjadikan ekonomi digital sebagai mesin pertumbuhan ekonomi utama berikutnya.

Dengan peran internet dan digital yang makin penting, maka strategi meningkatkan akses internet berkecepatan tinggi di daerah disertai dengan harga murah, menjadi hal strategis.

Hanya saja, di samping itu, pemerintah juga perlu meningkatkan program peningkatan literasi digital masyarakat daerah, jangan sampai terjadi euforia pemanfaatan internet murah dan berkecepatan tinggi yang dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak produktif.

Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI), yang dikeluarkan  Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, masih belum tinggi. Skor IMDI tahun 2024 hanya 43,34. Skor tersebut menunjukkan literasi digital masyarakat Indonesia termasuk kategori cukup, namun masih membutuhkan peningkatan.

Ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk meningkatkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *