Warta Politik, Gorontalo – Di bawah langit Timur Indonesia yang bersahaja, Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Provinsi Gorontalo menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Kongres Nasional GMNI ke-XXII yang akan digelar di Bandung — kota sejarah, kota api, tempat ide-ide besar bangsa pernah dilahirkan.
Ketua DPD GMNI Gorontalo, Ikhsan A. Karim, menegaskan bahwa dukungan tersebut tidak hanya bersifat administratif, melainkan merupakan ekspresi keyakinan kolektif.
Ia menyebutkan bahwa masa depan bangsa tidak akan lahir dari ruang-ruang kosong yang penuh debat tanpa arah, melainkan dari meja-meja kongres yang dipenuhi oleh ide, semangat, dan cita-cita kerakyatan.
“Kami akan datang ke Kongres bukan membawa ambisi, tapi amanah sejarah. Dari ujung Gorontalo, kami mengirimkan suara anak-anak marhaen kepada pusat medan juang. Bandung bagi kami bukan hanya tempat, ia adalah panggilan,” ujar Ikhsan (21/6)

DPD GMNI Gorontalo memandang Kongres kali ini sebagai ruang kontemplasi sekaligus konsolidasi nasionalis progresif. Di tengah kebisingan digital dan makin letihnya nalar publik, GMNI ditantang untuk tidak sekadar bertahan hidup — tetapi menghidupi ideologi bangsa dengan keberanian serta kesetiaan pada nilai-nilai perjuangan rakyat.
Dalam semangat itu, Ikhsan mengutip pesan Bung Karno saat berpidato di Bandung pada 1955:
“Berjaya atau tidaknya perjuangan kita, sangat bergantung kepada api dalam dada tiap pemuda.”
Bandung, tempat Kongres GMNI XXII akan digelar, bukan sekadar titik koordinat di peta. Di sanalah Konferensi Asia-Afrika menggema, di sanalah semangat anti-penjajahan ditempa. Maka, kembali ke Bandung bagi GMNI adalah kembali ke akar perjuangan nasionalis yang revolusioner, progresif, dan berdarah marhaen.
Tiga Tekad DPD GMNI Gorontalo untuk Kongres:
1. Menjaga marwah kongres, sebagai ruang demokrasi ideologis, bukan ajang politik praktis.
2. Mendorong kader terbaik bangsa,untuk tampil sebagai pemimpin yang jujur secara intelektual dan tajam secara moral.
3. Memperbarui komitmen terhadap Marhaenisme, sebagai ideologi yang hidup dan berpihak pada rakyat kecil.
“Kami akan datang ke Kongres bukan hanya membawa nama kami, tapi membawa nama-nama yang tak sempat bicara: nelayan kecil di Teluk Tomini, petani jagung di Limboto, buruh lepas di Bone Bolango, serta penambang rakyat di Pohuwato. Mereka yang marhaen, adalah alasan kami tetap setia pada GMNI.” tambah Ikhsan
Seruan untuk GMNI se-Indonesia
Menutup pernyataannya, DPD GMNI Gorontalo mengajak seluruh elemen GMNI se-Indonesia untuk menjadikan Kongres XXII bukan hanya ajang memilih, tetapi momentum menyusun ulang arah sejarah, menjahit robekan-robekan persatuan, serta menyalakan kembali lentera pemikiran nasional yang berpijak pada tanah rakyat.
GMNI di seluruh Indonesia juga diajak untuk **melawan segala bentuk intervensi dari elite partai politik** yang berupaya memanfaatkan kongres demi kepentingan sesaat.














