Warta Politik, Gorontalo – Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Gorontalo dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88 AT) Polri menggelar sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di SMA 1 Gorontalo Utara pada Selasa (4/2/25).
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 siswa dan para guru dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan bahaya ideologi yang dapat mengancam persatuan bangsa.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Satgas, yakni IPDA Sandy Jaya Kolopita, S.H., dan Brigpol Rian Rinaldy S. Dama, S.Kom, M.H. Turut hadir Kepala Sekolah SMA 1 Gorontalo Utara, Hj. Maharita Usman, S.Pd, M.Si., serta Guru Agama Agus Parima, S.Pd.

Dalam sambutannya, kepala sekolah menyatakan dukungannya terhadap sosialisasi ini sebagai langkah preventif membentengi siswa dari paham-paham berbahaya.

Tim satgas memaparkan berbagai ciri-ciri intoleransi, radikalisme, dan terorisme serta dampaknya terhadap masyarakat.
Melalui tayangan slide, mereka menampilkan berbagai kasus aksi teror yang pernah terjadi, baik di dalam negeri maupun internasional, sebagai bentuk ancaman nyata yang harus diwaspadai.

Para siswa juga diberikan wawasan mengenai tanda-tanda seseorang yang mulai terpapar paham radikal.

Beberapa indikasi di antaranya adalah enggan menyanyikan lagu Indonesia Raya, menolak menghormati bendera, serta menganggap hal tersebut sebagai bentuk kekafiran.
Selain itu, tim menekankan pentingnya memahami empat pilar kebangsaan, yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Keempat elemen ini disebut sebagai pondasi utama dalam menjaga keharmonisan dan persatuan bangsa.
Sosialisasi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab, di mana para siswa tampak antusias berdiskusi dan menggali informasi lebih lanjut.
Kepala sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan agar kesadaran akan bahaya radikalisme dapat ditanamkan sejak dini di lingkungan sekolah.











