Warta Politik, Kota Gorontalo -Suasana tenang di RSUD Otanaha, Kota Gorontalo, mendadak berubah pada Jumat siang, 11 April 2025.
Ketegangan terasa saat beberapa petugas kepolisian dengan pakaian sipil dan lencana dari Polresta Gorontalo Kota terlihat memasuki area administrasi yang berdekatan dengan Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Tidak ada sirine. Tak ada keributan. Namun langkah mereka cepat dan penuh ketegasan, cukup membuat mata pengunjung tertuju dan bertanya-tanya.
Seorang saksi mata yang enggan disebutkan identitasnya membagikan kisahnya pada Senin, 14 April.

“Saya datang untuk menjenguk keluarga yang dirawat, tapi tiba-tiba terlihat beberapa polisi masuk ke ruang administrasi sebagaimana tempat penyimpanan dokumen penting. Lama mereka di dalam, bikin kita semua bertanya-tanya, ada apa ini sebenarnya?” ungkapnya penuh keheranan.
Tiga jam lamanya para petugas itu berada di lokasi. Area administrasi menjadi titik yang paling lama mereka singgahi.

Namun tak ada penjelasan resmi yang disampaikan, baik dari pihak kepolisian maupun manajemen rumah sakit.
Aksi diam itu justru memantik berbagai spekulasi di kalangan pengunjung, tenaga medis, hingga masyarakat sekitar rumah sakit.
Kabar beredar bahwa kedatangan polisi mungkin terkait kasus hukum internal rumah sakit, atau bahkan keberadaan pasien dengan latar belakang kasus kriminal atau kepentingan politik.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa harus seperti sembunyi-sembunyi?” ucap saksi dengan nada curiga.
RSUD Otanaha, sebagai institusi publik yang seharusnya menjadi ruang aman dan terbuka, kini justru diselimuti tanya.
Dalam konteks sosiologis, hadirnya aparat negara di institusi layanan publik semestinya menghadirkan kepercayaan, bukan kekhawatiran.
Kunjungan tanpa kejelasan semacam ini hanya mempertebal dinding curiga. Terlebih ketika rumah sakit—yang seharusnya netral dari hiruk pikuk kekuasaan—malah tampak seperti panggung dari sesuatu yang disembunyikan.
Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada keterangan apapun dari Polresta Gorontalo Kota maupun pihak RSUD Otanaha. Sementara publik hanya bisa menanti, sembari terus bertanya: ada apa sebenarnya yang sedang terjadi?











