Daerah

Mahasiswa Keluhkan Fasilitas Asrama Tak Layak, Pihak Kampus Dinilai Anti-Kritik

×

Mahasiswa Keluhkan Fasilitas Asrama Tak Layak, Pihak Kampus Dinilai Anti-Kritik

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Keluhkan Fasilitas Asrama Tak Layak, Pihak Kampus Dinilai Anti-Kritik
Arya Hanapi | Ketua Wilayah LMND Gorontalo

Warta Politik, Gorontalo — Keluhan soal kondisi asrama di kampus swasta terbaik I di provinsi Gorontalo, memicu perbincangan hangat di media sosial. Dalam tangkapan layar percakapan yang beredar, sejumlah mahasiswa mengeluhkan fasilitas yang dinilai tidak layak meski telah membayar biaya yang cukup tinggi.

Dalam pesan tersebut, disebutkan bahwa setiap mahasiswa dibebankan biaya mencapai Rp10 juta per orang. Satu kamar ditempati tiga orang, sehingga total dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp30 juta per kamar. Namun, fasilitas yang disediakan dinilai jauh dari harapan.

“Lemari sudah rusak, kaca pecah, kasur tidak seimbang dan berkarat, bahkan ada air yang bau dan ular di asrama,” demikian bunyi keluhan salah satu penghuni dalam pesan yang tersebar di media sosial.

Baca Juga :  Harita Group Diduga Menjalankan “Hukum Sendiri”: Praktisi Hukum Soroti Penahanan Ilegal

Alih-alih mendapat perhatian, unggahan itu justru menuai respons keras dari pihak tertentu yang menilai para mahasiswa “menyerang kampus” hanya karena menyuarakan keluhan mereka. Reaksi tersebut menuai kritik lebih luas dari publik, terutama karena mahasiswa sejatinya memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi dan kondisi faktual yang mereka alami.

Menanggapi hal itu, Arya Hanapi, Ketua Wilayah LMND Gorontalo, menilai bahwa respons defensif terhadap kritik mahasiswa menunjukkan lemahnya ruang dialog di lingkungan akademik.

Baca Juga :  TNI Manunggal Sediakan Air Bersih untuk 1.445 Warga Bonbol

“Mahasiswa seharusnya tidak dibungkam ketika menyampaikan aspirasi. Justru pihak kampus harus mendengar dan memperbaiki, bukan menganggap keluhan sebagai serangan,” tegas Arya.

Ia menambahkan, suara mahasiswa yang berani mengungkap kondisi asrama adalah bentuk kepedulian terhadap kualitas kampus itu sendiri.

“Ketika ada yang mengeluh, artinya mereka masih punya harapan terhadap kampusnya. Kalau ruang kritik saja ditutup, itu justru mencederai nilai-nilai akademik dan semangat Muhammadiyah yang menjunjung keterbukaan,” ujarnya.

Baca Juga :  Helmi Rasid: Kekerasan Terhadap Aktivis Bukan Kriminal Biasa, Ini Pembungkaman!

Publik kini menanti respons resmi dari pihak Universitas terkait keluhan fasilitas asrama serta tudingan bahwa kritik mahasiswa dianggap sebagai tindakan menyerang institusi.

Isu ini bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga menyangkut iklim kebebasan berekspresi di lingkungan kampus, apakah kampus masih menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk bersuara, atau telah berubah menjadi ruang yang menakutkan bagi mereka yang berani berkata jujur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *