Warta Politik, Gorontalo – Anggota DPRD Kabupaten Boalemo, Helmi Rasid, mengecam keras tindakan premanisme yang kian merajalela di Provinsi Gorontalo.
Ia menilai, serangkaian aksi kekerasan terhadap aktivis belakangan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Namun, bagian dari upaya sistematis untuk membungkam suara kritis terhadap tambang emas ilegal di Gorontalo.
“Ini bukan kekerasan biasa. Ini pembungkaman terhadap aktivis yang selalu mengkritisi persoalan pertambangan emas tanpa izin. Dan yang lebih mengerikan, negara seakan-akan absen dalam melindungi mereka,” tegas Helmi yang juga mantan Aktivis HMI. Senin, (19/5).
Perlu di ketahui, Empat korban yang diserang oleh orang tak dikenal (OTK) adalah para aktivis yang selama ini aktif menyuarakan penolakan terhadap pertambangan emas ilegal di Gorontalo. Mereka adalah Hidayat Musa, mantan Ketua LMID Gorontalo; Amin, Ketua GAM Gorontalo; Harun Alulu, Koordinator Daerah BEM Nusantara dan mantan Presiden BEM UG; serta Syawal, Wakil Presiden BEM IAIN Gorontalo.

Menurut Helmi, para korban dikenal konsisten melakukan aksi demonstrasi menolak aktivitas tambang ilegal yang diduga melibatkan oknum TNI/Polri.
“Mereka jadi target karena berani bersuara lantang. Dan saat mereka diserang, aparat hanya bisa bilang ‘masih didalami’, ‘masih kami pelajari’. Ini pelecehan terhadap akal sehat publik,” ujarnya.
Helmi menyoroti sikap aparat penegak hukum yang dianggap tidak menunjukkan keseriusan dalam menuntaskan kasus ini. Alih-alih melakukan langkah konkret, APH justru menanggapi laporan dengan jawaban normatif yang makin memicu kekecewaan dan kemarahan publik.
“Sikap acuh tak acuh aparat ini sangat disayangkan. Seolah ada pembiaran terhadap premanisme yang mulai merusak tatanan demokrasi dan hukum di Gorontalo,” tegasnya.
Ia mendesak aparat kepolisian, khususnya Kapolda Gorontalo, untuk turun langsung menangani kasus ini dan menindak tegas para pelaku serta aktor intelektual di balik kekerasan terhadap aktivis.
“Jika negara gagal hadir di tengah rakyat yang tertindas, jangan salahkan jika rakyat akhirnya mengambil langkah sendiri,” tutup Helmi dengan nada tegas.
Sebelumnya, beredar chat di Group WhatsApp Tim Joker, dengan tegas memerintahkan pengusaha tambang, untuk mencatat dan melaporkan nama APH, yang berani menghentikan aktivitas pertambangan.
“Bahkan, penganiayaan terhadap aktivis di bahas dalam group tersebut. Sehingga menguatkan dugaan, jika para korban di aniaya berkaitan dengan pertambangan,” bebernya.














