Warta Politik, Kota Gorontalo – Di tengah suasana Lebaran Idul Fitri, Rembuk Pemuda Gorontalo memanfaatkan momen silaturahmi yang berlangsung di Open House Gubernur Gorontalo dan Anggota Legislatif (Aleg) Provinsi Gorontalo, Erwin Ismail.
Kehadiran mereka bukan sekadar mempererat hubungan, tetapi juga membawa isu penting yang tengah berkembang di Gorontalo.
Salah satu perhatian utama Rembuk Pemuda Gorontalo adalah terkait dengan status salah satu anggotanya yang dikeluarkan dari sebuah perguruan tinggi di Gorontalo.
Keputusan kampus tersebut dinilai tidak adil dan mencerminkan sikap represif terhadap kebebasan akademik.

Koordinator Wilayah Rembuk Pemuda Gorontalo, Rezaldath, mengungkapkan kepada Erwin Ismail bahwa tindakan kampus tersebut terlalu arogan dalam menghadapi sikap kritis mahasiswa.

“Ini terlalu lucu, mahasiswa dibungkam hanya karena kritik. Terlebih lagi, status kemahasiswaannya dicabut dengan alasan yang tidak berdasar,” ujar Reza.
Reza juga menambahkan bahwa mahasiswa yang dikeluarkan tersebut adalah mantan Presiden Mahasiswa. Menurutnya, kritik dari mahasiswa seperti itu adalah hal yang wajar dalam lingkungan akademik.
“Kritikan di dalam ataupun di luar kampus adalah hal yang biasa. Masalahnya adalah bagaimana pihak yang dikritik meresponsnya. Ini bukan hanya soal satu mahasiswa yang di-DO, tetapi tentang kebebasan berbicara yang semakin terancam. Mahasiswa dipaksa diam dalam kesulitan, dan tidak bisa tertawa dalam kebahagiaan. Kami menuntut agar status mahasiswa tersebut dikembalikan, atau kampus yang bersikap semena-mena harus ditindak tegas,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Reza menegaskan bahwa komunikasi terkait kasus ini tidak akan berhenti di tingkat provinsi.
“Kami pastikan, langkah kami tidak hanya terbatas di Gorontalo. Kami akan menyurati Kementerian terkait dan DPR-RI agar persoalan ini mendapat perhatian. Saat ini, kami juga telah berkoordinasi dengan beberapa tokoh penting yang siap membantu perjuangan ini,” tutupnya.












