Tajuk – Kematian Sutrimo menjadi perbincangan luas. Berbagai dugaan muncul, mulai dari keracunan hingga kemungkinan adanya tindak kejahatan.
Namun, satu hal harus ditempatkan secara proporsional: dugaan bukanlah fakta final.
Busa di mulut memang dapat terlihat mengkhawatirkan. Tetapi dalam dunia kedokteran forensik, busa bukan tanda tunggal yang dapat memastikan seseorang meninggal karena racun.
Busa dapat terbentuk ketika seseorang mengalami kejang atau gangguan pernapasan. Karena itu, pemeriksaan terhadap penyebab kematian harus dilakukan secara menyeluruh.
Kronologi Sutrimo juga penting.
Ia disebut masih beraktivitas pada dini hari. Setelah merasa lemas, kondisinya kemudian memburuk. Bahkan beberapa jam kemudian ia masih sempat meminta pertolongan sebelum akhirnya mengalami kondisi kritis dan kejang.
Riwayat diabetes yang disebut dimilikinya juga menjadi salah satu aspek medis yang harus diperhitungkan.
Hipoglikemia berat dapat menyebabkan tubuh mengalami kegagalan fungsi otak akibat kekurangan glukosa, yang pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi kejang dan keadaan fatal.
Tetapi sekali lagi, hal itu pun bukan alasan untuk membuat kesimpulan baru tanpa pemeriksaan resmi.
Publik membutuhkan transparansi. Keluarga membutuhkan kepastian. Dan proses hukum membutuhkan bukti.
Karena itu, apabila ada dugaan kejahatan, penyelidikan harus dilakukan secara profesional. Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kematian akibat kondisi medis alami, masyarakat juga harus menghentikan spekulasi.
Jangan biarkan media sosial menjadi ruang pengadilan tanpa hakim, tanpa laboratorium dan tanpa bukti yang diuji.
Biarkan fakta forensik berbicara.






